Headlines News :
Topics :

SOUTIKA ONLINE

Showing posts with label Fikrah. Show all posts
Showing posts with label Fikrah. Show all posts

Memanfaatkan Waktu dengan Hal-Hal yang Positif


Liburan berlalu begitu cepat. Tidak terasa jadwal kuliah sudah berjalan sebagaimana mestinya. Pastinya liburan adalah cara paling indah untuk meluapkan keinginan yang paling dalam. Semua bahagia, Semua senang, dan yang paling beruntung  adalah orang yang merasa liburan itu tidak istirahat, liburannya digunakan dengan hal yang bermanfaat. “Arrohatu fi tabaadulil a’maal” yang berarti: istirahat adalah pergantian dari satu kegiatan kepada kegiatan yang lain.

Islam adalah agama realistis, tidak tenggelam dalam dunia khayal dan lamunan. Tetapi Islam berjalan bersama manusia di atas dunia realita dan alam kenyataan. Islam tidak memperlakukan manusia sebagai Malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat. Tetapi Islam memperlakukan manusia sebagai manusia yang harus keluar untuk melirik masa depan.

Setelah liburan, Masisir banyak mengisinya dengan mengadakan berbagai macam kegiatan; baik yang positif maupun negatif. Contohnya kegiatan positif, seperti mengadakan kajian-kajian yang bermanfaat, pelatihan-pelatihan, mengadakan rihlah guna tadabbur nikmat serta mencari pengalaman baru. Ada pula yang mengisi waktunya untuk talaqqi dengan para Ulama, tahsin bacaan al-Qur’an, i’tikaf di masjid-masjid untuk mengulang hafalan al-Quran ataupun melanjutkan hafalan mereka dan lain sebagainya.

Masisir identik dengan kegiatan yang begitu padat. Selain jadwal kuliah, kita harus betul betul pintar membagi waktu dengan kegiatan lainnya. Kegiatan organisasi yang bersifat perlombaan, pertemuan, kegiatan, dan lain sebagainya yang berkenaan dengan hal yang bermanfaat. Untuk itu diperlukan manajemen waktu yang baik. sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi: “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Barang siapa hari kemarin sama dengan yang kemarin maka orang itu adalah rugi dan barang siapa yang hari sekarang lebih buruk dari hari kemarin maka dia adalah orang yang terlaknat.”

Agar tidak menjadi manusia dalam golongan yang merugi apalagi terlaknat, maka dibutuhkan  “management of time” pengaturan waktu. Yang berarti kita harus bisa memaksimalkan waktu yang ada dengan menyeimbangkan antara kegiatan akademis dan organisasi.

Selain itu kita harus menyadari, siapa kita dan apa kita?. Apakah kita hanya sekedar pelancong yang datang ke negeri ini untuk liburan atau memang putera bangsa yang dituntut untuk membekali diri dengan ilmu yang banyak? Kita yang bisa menjawabnya.

Istilah karya bisa diartikan ciptaan, pekerjaan, hasil perbuatan yang bukan hasil tiruan. Karya manusia akan diterima oleh manusia jika karya itu mempunyai nilai unggul, ada nilai tambahnya. Dan harus disadari manusia hidup itu bukan dari apa yang dimiliki tapi dari apa yang usahakan.

Banyak hal yang bisa diambil disini selain dari bangku kuliah salah satunya adalah talaqqi-talaqqi di masjid-masjid.  Dan asli pendidikan yang yang ada di Al Azhar sebenarnya adalah talaqqi. Bukan ketika menjawab muqorror termin dua. Karena jika kita kembali ke tanah air nanti, bukan hanya muqorror yang akan ditanyakan oleh masyarakat. Bukan pula taqdir najah ataupun syu’bah yang akan diperdebatkan. Akan tetapi masyarakat akan mempertanyakan segala permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Pertanyaannya, “Sudah siapkah kita?”

Maka dari itu, mari kita jadikan setiap waktu yang ada ini sebagai penunjang keilmuan kita dengan memanfaatkan setiap waktu sebaik-baiknya. Selanjutnya, tugas kita saat ini adalah berusaha untuk saling mengingatkan; baik kepada diri sendiri ataupun orang lain. Tak lupa, mempersiapkan diri kita untuk mewujudkan impian masyarakat yang juga menjadi tuntutan bagi kita bersama.

Bagi yang suka beroganisasi, ada banyak hal yang bisa didapat. Selain bertambah Pengalaman ada hal yang bisa didapat dalam berorganisasi. Memupuk kebersamaan, menjalin ukhuwwah islamiyyah sesama Masisir, bertambah ilmu, bertambah barokah, bertambah ilmu dan pengalaman, dan tentunya bertambah umur.

Bagi yang tidak ada kegiatan, masih banyak yang harus diselesaikan. Masih beberapa ‘muqorror’ yang harus diselesaikan. Kita harus menyicilnya dari sekarang dari pada harus menunggu ujian di depan pintu.  Kegiatan antar kekeluargaan,  Almamater, Klub, Organisasi, dan lain sebagainya. Masih banyak yang harus dibereskan.

Untuk itu diperlukan pengaturan waktu yang baik agar tidak hancur: buat rencana jangka panjang untuk memudahkan perjalanan di Mesir ini. Rencana-rencana akan semakin mudah tercapai. ‘ightanim khomsan’: ingat masa kecilmu sebelum masa tuamu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu dan masa hidupmu sebelum matimu.

Mementingkan yang terpenting dari hal-hal yang penting. Orang yang penting adalah orang yang menganggap dirinya penting dan mengerti apa itu kepentingan. Karena kepentingan adalah pilihan. Orang yang merasa penting akan memilih mana yang peting dan mana yang lebih penting. Mana yang harus dilakukan dahulu dan mana yang harus diakhirkan?

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Harus bersusah-susah dahulu. Bersenang-senang kemudian. Menanam sekarang itu langkah terbaik untuk menanam masa depan. Pemuda sekarang adalah manusia masa depan. Jadi, lakukan hal terbaik untuk menyongsong masa depan cerah. Wallahu A’lam bis showab.

Pemanfaatan Liburan Dengan Menilik Peradaban-Peradaban Mesir


Liburan adalah waktu yang ditunggu banyak orang,  mayoritas menyukainya walaupun tidak dipungkiri ada yang tidak menyukainya, entah dia  menganggap bahwa liburan hanya menghambur-hamburkan uang saja, namun ini hanya sebagian kecil saja. Liburan juga bertujuan untuk merefresh otak, membangkitkan semangat dalam tubuh, sebagai waktu untuk mengintropeksi diri, pengembangan diri, menambah pengalaman dan lain sebagainya. Dan cara setiap orang dalam memanfaatkan liburan pun berbeda-beda, ada yang memanfaatkannya dengan hal-hal positif namun tidak sedikit yang memanfaatkannya dengan hal-hal negatif.

Liburan termin pertama universitas Al-Azhar adalah waktu yang ditunggu-tunggu para mahasiswa/i universitas Al-Azhar. Setelah menjalani ujian termin pertama dengan penuh cobaan, baik cobaan fisik ataupun psikis, ditemani cuaca yang dingin, yang tidak ditemukan di Negara kita, maka ini menjadi ujian tersendiri bagi mahasiswa/i Indonesia.

Liburan juga dapat membuat seseorang menemukan nilai-nilai kehidupan yang luhur yang mungkin belum pernah dikenal, dan  menjadi sarana pembelajaran yang berguna untuk mengembangkan diri menjadi lebih tangguh dari hari ke hari. Apalagi Mesir  terkenal sebagai negara yang penuh dengan peradaban Islam yang begitu menakjubkan sehingga banyak hal yang perlu dikaji dan dipelajari. 

Istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “Budaya”, dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah kebudayaan. Peradaban juga  dapat diartikan sebagai “Seni, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, nilai, bahan prilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat”. Dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan IPTEK.

Apabila menilik peradaban-peradaban Mesir kuno yang biasanya tumbuh dan berkembang di daerah-daerah yang dekat dengan sumber kehidupan seperti lembah dan sungai atau pantai yang lebih di kenal dengan sungai Nil, peradaban Mesir yang terletak di lembah sungai Nil ini, bagi bangsa Mesir adalah sebagai sumber kehidupan dan pusat perhubungan antar bangsa, beberapa fakta menyebutkan bahwa Mesir kuno telah memiliki kebudayaan-kebudayaan yang tinggi diantaranya; pemerintahan, bangsa Mesir sudah mengenal bentuk pemerintahan kerajaan. Kepercayaan, bangsa Mesir mempercayai dewa-dewa (polytheisme). Mereka memuja banyak Dewa, dengan Dewa Ra atau Dewa Matahari sebagai Dewa tertinggi yang dipuja oleh sebagian besar masyarakat Mesir kuno. Bangunan, bangunan Mesir dengan kemegahan dan misteri yang terkandung di dalamnya sampai saat ini masih bisa dinikmati dan membawa kekaguman tersendiri bagi masyarakat modern terutama pecinta sejarah, seperti piramida dengan bentuk bangunan limas yang dibangun sejak dinasti ketiga untuk makan Raja-Raja Mesir. Seni Patung, seni patung yang ditinggalkan oleh bangsa Mesir sangat mengagumkan berukuran besar-besar, yang mana saat itu belum ada alat-alat atau teknologi canggih seperti yang dimiliki zaman modern seperti sekarang ini. Seni Lukis, media lukis yang dipakai bangsa Mesir kuno adalah papyrus, lukisan memiliki fungsi sebagai upacara pelengkap kematian atau upacara keagamaan. Bentuk lukisan bangsa Mesir tidak mempunyai perspektif, posisi manusia semuanya dengan posisi menyamping. Dan masih banyak lagi peradaban-peradaban Mesir lainnya yang perlu kita pelajari.

Dengan adanya waktu liburan ini, hendaknya dapat dimanfaatkan untuk mengkaji peradaban-peradaban atau kebudayan di Mesir ini, dengan begitu seseorang akan menjadi lebih  paham. Pemanfataan liburan dengan hal-hal yang positif seperti mengkaji perdaban dan lain sebagainya membuat mahasiswa/i universitas Al-Azhar mempunyai jiwa intelektualitas yang tinggi. Dan dampak liburan bagi diri kita sangat besar, tentunya melalui liburan bisa lebih bersyukur atas nikmat yang di berikan oleh Allah. Baik karena kesempatan melihat obyek yang dikunjungi maupun bersyukur atas keajaiban tanganNya menciptakannya. Seperti firman Allah SWT yang berbunyi: "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Qs. An-Nahl :18).

Dengan waktu liburan, saatnya kita melihat kehidupan lain di tempat-tempat yang berbeda selama kita masih diberi umur dan kesempatan, dan mengisinya dengan hal-hal yang positif. Waktu adalah emas. Banyak  orang yang membuang-buang waktunya hanya untuk hal-hal yang tidak berguna, dan kebanyakan  mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menyia-nyiakan waktu yang tidak akan mungkin kembali lagi. Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di perbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Qs. Al-Hasr :18), dan dalam hadits Rasulullah SAW yang bersabda: “Ada dua nikmat, dimana banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan kesempatan.”(HR. Bukhori). Hadits ini menjelaskan pentingnya mamanfaatkan kesempatan (waktu), karena tanpa di sadari banyak orang yang terlena dengan waktunya.

 Pemanfaatan Liburan dengan efisiensi yang maksimal membawa sejuta manfaat bagi diri kita dan tanpa disadari kita akan menjadi pribadi yang lebih bahagia atau have good quality life.

Hidup Sekali, Hiduplah Dengan Perencanaan yang Berarti


Hidup sekali, hiduplah yang berarti. Mungkin inilah filosofi hidup yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, apalagi ketika di dalam pondok pesantren, terutama yang berafiliasi modern. Nasihat pak kyai, ustadz dan ustadzah,  selalu mengarah pada filosofi tersebut. Namun terkadang nasihat hanya tinggal nasihat, bahkan seperti hanya seonggok kalimat bermakna yang tidak diresapi maknanya. Memang sangat disayangkan, padahal makna yang terkandung didalamnya sangat besar. Oleh karena itu  Sengaja penulis mengangkat judul tersebut untuk sama-sama mengingat, meresapi dan mengaplikasikanya dalam kehidupan.

Sebelum itu semua, hendaklah kita bersyukur atas karunia dan rahmat Allah Swt., karena kita termasuk orang-orang yang beruntung yang diberi kesempatan untuk belajar di bumi para Nabi ini. Tidak sedikit teman-teman kita yang belum mendapatkan kesempatan seperti ini.  bersyukur dengan catatan tidak sebatas ucapan, bersyukur harus dengan tindakan dan aksi yang mengarah pada sesuatu yang bermanfaat. Karena ada orang yang hanya bisa bersyukur sebatas ucapan ‘Alhamdulillah’ namun hendaknya kita mampu melatih hati, ucapan dan tindakan untuk bersyukur dengan memberdayakan seluruh potensi yang kita miliki kepada hal-hal yang positif. Inilah bersyukur yang sebenarnya.

Kembali kepada filosofi “hidup sekali, hiduplah yang berarti” filosofi tersebut sebenarnya mengarahkan kita kita kepada suatu perencanaan hidup atau pemetaan hidup ( life mapping ) yang matang.  Bagaimana hidup kita akan berarti, kalau kita tidak punya rencana yang matang? Maka tidak salah jika filosofi tersebut jika diinterpretasikan secara lebih luas bermakna “hidup sekali, hiduplah dengan perencanaan yang berarti” hidup kita hanya sekali dan jikalau tidak diisi dengan perencanaan yang berarti, maka kita termasuk orang-orang yang merugi. Maka dari itu, sebagai mahasiswa/i baru di negeri ini, harus mampu merencanakan dengan matang apa saja yang hendak dicari dan tujuan yang ingin dicapai selama melaksanakan studi di negeri Kinanah ini.

Perencanaan merupakan proses untuk menentukan kemana harus melangkah dan mengindentifikasi segala persyaratan yang dibutuhkan secara efektif dan efisien, sehingga perencanaan sesuai dengan yang diinginkan. Hidup tanpa perencanaan hanya akan membuat kita terombang-ambing kepada ketidakpastian, jika kita berjuang untuk ketidak-pastian. ketika kita gagal, maka pikiran negatiflah yang masuk. Sehingga akan mendorong kita untuk memunculkan opini, sikap dan pilihan-pilihan negatif  dalam bertindak. “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ( Akhirat ); dan bertakwalah kepada Allah, sesunguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”( QS. Al-Hasyr:18 ) dari ayat tersebut jelas bahwa kita dituntut untuk selalu memperhatikan apa yang telah kita perbuat dengan maksud agar tidak menyesal dikemudian hari, tidak lain dengan perencanaan yang matang.

Hidup tanpa perencanaan juga hanya akan membuang-buang waktu dan umur yang kita punya, padahal waktu yang tersedia antara satu dan yang lainnya tidak ada yang berbeda, maka benar sebuah syair arab yang mengatakan “Waktu adalah pedang, jikalau kamu kamu tidak memotongnya maka kamu yang akan terpotong.” Sekedar motivasi, waktu yang kita punya sama dengan waktu yang ada pada al-Imam Ibnu Jharir At-Thabari yang dikisahkan selama 40 tahun beliau menulis setiap hari 40 lembar, sehingga meninggalkan tulisan yang jumlahnya hampir 584.000 lembar. Waktu yang kita punya juga sama dengan Einstein, Imam Syafi’I, Ibnu Hajar al-Ashqolani, dll. Dan sekarang lantas bagaimana kita, peran dan fungsi kita,. Maka, disinilah peran perencanaan hidup sangat penting.

Berikut manfaat perencanaan hidup dari berbagai sumber :
1.      Sebagai panduan dalam membuat keputusan atau bertindak.
2.      Membuat kita tetap fokus dan memiliki target.
3.      Dapat memanfaatkan waktu secara efektif.
4.      Siap untuk hal-hal yang buruk.
5.      Mengurangi resiko dan ketidakpastian.
6.      Sebagai langkah awal menuju kesuksesan.

‘’ Siapa yang gagal dalam berencana, maka dia merencanakan untuk gagal.” Sebuah kata bijak yang patut kita cermati dan resapi bersama. Karena setiap masing-masing manusia diberi kapasitas dan kecenderungan yang berbeda-beda, apalagi  diberi kenyataan bahwa kita hidup hanya sebentar. lantas apakah  kita hanya akan menggunakan usia yang sedikit itu untuk hal-hal yang biasa saja, apakah kita hanya akan mengikuti aliran hidup yang stagnan dan tidak ada peningkatan. Pasti kita tidak ingin seperti itu. Maka, perencanaan hidup yang matanglah yang harus kita buat. Jangan sampai ketika kita sudah gagal berencana, maka kita merencanakan kegagalan.

Dan akhirnya, Setiap orang ingin berhasil, tapi tidak setiap orang bersedia untuk berubah. Ketika kita belum mempunyai perencanaan dalam hidup, buatlah ! buatlah sebuah perencanaan hidup. Ketika berat untuk istiqomah dalam menjalankannya. Jalanilah ! itu adalah sebuah proses. Kenikmatan hidup yang sesungguhnya berada pada proses itu. Ketika gagal dalam perencanaan hidup, bersabarlah ! karena dibalik itu semua Allah sedang merencanakan sesuatu hal yang lebih baik. Selamat merencanakan hidup dan selamat menjalaninya kawan. Kesuksesan sedang menunggu di depan mata.

 Miftah Firdaus 


Tanafuz Di Persimpangan Jalan

11 November 2006, tanggal bersejarah yang tak akan terhapus dari memori kita masing-masing. Memasuki bulan kesebelas —terhitung sejak kedatangan kita—, dengan mudah kita bisa menemukan nama rekan Tanafuz baik di IKPM sebagai almamater sekaligus induk Tanafuz, kekeluargaan, afiliatif, senat, PPMI dan beberapa organisasi lain. Ini menandakan bahwa personal Tanafuz bisa dibilang cukup mewarnai pergerakan di Masisir.

Jika kita menoleh ke belakang, Tazkia Fi nailil Fauz boleh dikata memiliki sejarah yang istimewa. Perdebatan alot yang menghiasi penamaan marhalah antara Tazkiyah dan Nailil Fauz menggambarkan motivasi masing-masing pihak (Lih.: Cakrawala Ed.I th.4). Mau ke mana dan apa yang mereka rencanakan untuk marhalah. Shakespeare dalam Hamlet-nya boleh saja bilang, apalah arti sebuah nama. Namun bagi orang yang mempunyai misi, dan tujuan, nama bisa menjadi barang fatal. Sebab menurut hemat penulis, nama mencerminkan keinginan dan tujuan final yang ingin dicapai. Dengan kata lain, saat terjun ke dalam organisasi marhalah ini, setiap personal Tanafuz mempunyai idealisme masing-masing untuk maju ke depan.

Selanjutnya, memelihara idealisme adalah tantangan bagi Tanafuz. Apalagi Tanafuz bisa dikata organisasi plural, anggotanya datang dari latarbelakang yang berbeda. Seperti angkatan kelulusan, pondok almamater, dan daerah. Tantangan pertama yang dihadapi adalah menyatukan sekian banyak suara dan jangan sampai idealisme tersebut diseret kepada kepentingan unsur tertentu. Namun dengan perkumpulan bulanan sebagai ajang silaturrahim dan sosialisasi program sekaligus penyamaan persepsi, keluarga Tanafuz yang plural bisa disatukan, tidak tersekat-sekat dalam kotak sempit, lalu berjalan terseok dan jatuh.

Waktu berlalu dan dinamitas Tanafuz berdetak kencang. Terhitung sejak liburan musim panas dimulai hingga sekarang, beberapa acara yang diadakan dari level almamater, kekeluargaan, hingga masisir sedikit banyak melibatkan anggota Tanafuz, langsung maupun tak langsung.

Dinamitas ini membuka potensi bagi Tanafuz untuk menjadi lebih daripada sekedar marhalah. Keakraban dan kemiripan kultur menjadi keunggulan tersendiri untuk menjalin harmoni lintas kekeluargaan, afiliatif, almamater, dan senat. Tinggal bagaimana kita membangun sinergi antar organisasi —lintas kekeluargaan, lintas afiliatif— demi kepentingan yang lebih besar lagi. Hingga akhirnya tercipta sebuah harmoni umum dalam skup yang luas.

Sebaliknya, derasnya gerakan Tanafuz sedikit banyak memecah konsentrasi personelnya. Kekhawatiran mulai muncul takut-takut kalau marhalah tidak bisa selancar tahun ini. Hal tersebut bisa diraba, terbukti dalam beberapa agenda belakangan panitia agak susah dikumpulkan. Padahal anggota IKPM terkenal paling loyal.

Ada beberapa faktor yang memicu terjadinya fenomena ini. Di antaranya, masing-masing mulai memikirkan masa depan dan memilih medium untuk berkembang. Sejalan dengan apa yang dipahami dari dan mengenai ego (jati diri). Pondok juga mengenalkan kita kepada “jaros”, agar para santrinya sadar, harga hidup tidak semurah “sekedar” mengikuti arus atau formalitas. Mental-mental li ajli inilah yang selalu diberantas oleh pondok. Salah satu adagium yang masih saya rekam baik-baik, “jangan hanya ikut jaros”.

Marhalah sebagai organisasi juga tidak bijak apabila bersikap egois. Yaitu dengan membakukan anggotanya dalam satu bentuk. Sebab fungsi utama marhalah sendiri adalah tempat untuk silaturahim. Toh tidak mungkin suatu organisasi—apapun itu—bisa mengakomodir semua kebutuhan seluruh anggotanya. Di sinilah perlu adanya pengertian untuk saling “berbagi”.

Namun di sisi lain, hendaknya sense of belonging (rasa kepemilikan) terhadap marhalah harus tetap dijaga. Mengingat kesibukan setiap individu yang semakin kompleks dan semakin menjurus pada spesialisasi masing-masing, bukannya tidak mungkin marhalah tersisih. Oleh karena itu, setidaknya kegiatan yang mempu mengikat emosi anggota seperti perkumpulan bulanan, sepakbola, dan musik dipertahankan menjadi agenda tetap marhalah ke depan.

Akhirnya, eksistensi Tanafuz kembali pula kepada figur pemimpinnya. Hari ini Sabtu, 6 Oktober 2007 di Griya Jawa Tengah, Tanafuz memasuki momen yang krusial dan menentukan dalam perjalanannya sebagai marhalah. Kesalahan mengambil keputusan bisa saja berdampak fatal di kemudian hari. Tanafuz akan semakin maju atau justru berakhir.

Mungkin tulisan ini terlalu muluk, atau terlampau dangkal dalam menganalisa permasalahan. Namun paling tidak bisa menjadi stimulan kita agar bisa berbuat lebih banyak. I‘malû fawqa mâ ‘amilû. Wa’lLâhu a‘lamu bi’s shawâb.

Menjalani sebuah Liburan

Liburan adalah waktu yang sudah pasti dinantikan oleh banyak orang, mulai dari para orang tua yang letih bekerja di kantor, sampai para pelajar yang penat setelah melewati peperangan dalam ujian. Meskipun sering kita melihat respon yang berbeda antara anak dengan orang tua. Anak-anak dengan gembira dan semangatnya menyambut liburan mereka, sedangkan orang tua malah pusing dan bingung karena mereka harus memikirkan aktivitas apa saja yang dapat mengisi liburan, sehingga kegiatan anak tetap terarah dan berkualitas. Dan kebanyakan orang mengisi waktu liburnya dengan berbagai macam liburan yang menyenangkan. Sebenarnya, bagaimana pandangan Islam tentang liburan?

Liburan dalam Islam adalah sesuatu yang dapat memberi ketenangan dan kegembiraan kepada seseorang. Ia diharuskan dalam Islam dengan syarat tidak ada pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan, tidak melalaikan pemain dan pendengar daripada mengingat Allah SWT dan lain-lain perkara yang bertentangan dengan Islam.
Islam adalah agama realis, tidak tenggelam dalam dunia khayal dan lamunan. Tetapi Islam berjalan bersama manusia di atas dunia realita dan alam kenyataan. Islam tidak memperlakukan manusia sebagai Malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat. Tetapi Islam memperlakukan manusia sebagai manusia yang suka makan dan berjalan di pasar-pasar.


Karenanya, Islam justru tidak mengharuskan manusia agar dalam seluruh percakapannya itu berupa zikir, diamnya itu berarti berfikir, seluruh pendengarannya hanya kepada al-Quran dan seluruh senggangnya harus di masjid. Akan tetapi, Islam mengakui fitrah dan instink manusia sebagai makhluk yang dicipta Allah, di mana Allah membuat mereka sebagai makhluk yang suka bergembira, bersenang-senang, tertawa dan bermain-main, sebagaimana mereka dicipta suka makan dan minum.

Dalam Islam, tidak ada salahnya untuk kita berlibur, karena liburan itu adalah suatu nikmat karunia Allah SWT. Tetapi liburan dalam Islam ada caranya, apabila tidak sesuai dengan caranya, maka akan menjadi suatu kesalahan. Dan Islam melarang liburan yg melampaui batas. Adapun liburan yang dilarang oleh Islam diantaranya :

Pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan
Musik yg melalaikan dan tarian yg merangsang nafsu
Pakaian yang tidak senonoh dan memaparkan aurat
Liburan yang melalaikan daripada melaksanakan ibadah
Liburan yang diiringi minuman keras dan narkoba
Liburan yang menyebabkan syirik kepada Allah SWT

Pelarangan terhadap liburan-liburan yang dipaparkan di atas dibuktikan oleh sejarah, yang di mana kerajaan Islam Abbasiyah, Utsmaniyah dan Melayu Melaka runtuh disebabkan oleh kesenangan dan kemewahan hidup yang melalaikan. Pemerintah dan rakyat yang asyik dengan kesenangan dunia, dan mereka lupa akan kehidupan akhirat.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasululallah SAW, yang artinya: “Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum, maka ia adalah sebagian daripada mereka.”

Dan Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-An’am, ayat 32 yang artinya: “Dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan liburan yang melalaikan; dan sesungguhnya kehidupan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Oleh sebab itu, tidakkah kamu berfikir?”

Oleh sebab itu, kita harus dapat memilih liburan mana yang sepatutnya kita jalani, karena liburan yang yang melampaui batas dapat menjerumuskan kita ke dalam lembah kemaksiatan dan kemungkaran. Selain itu, liburan yang melalaikan juga dapat menyebabkan kekerasan hati dan kesukaran dalam menerima hidayah. 

Akan tetapi, pada hakikatnya Islam tidak melarang liburan yang sesuai dengan syariat, karena merupakan fitrah manusia yang menginginkan sedikit waktu untuk menghibur hati. Dan setiap orang perlu mendapatkan ruang yang cukup untuk menghibur hati dan beristirahat sejenak guna menghilangkan kepenatan, keletihan dan memperbaharui kecerdasan serta daya kerja otak.

Di masa liburan musim panas yang amat panjang ini, mahasiswa mesir Indonesia banyak mengisinya dengan mengadakan berbagai macam kegiatan; baik yang positif maupun negatif. Contohnya kegiatan positif, seperti apa yang dilakukan mahasiswa mesir Indonesia dengan mengadakan kajian-kajian yang bermanfaat, pelatihan-pelatihan, mengadakan rihlah guna mempererat ukhuwwah serta tadabbur nikmat. Ada pula yang mengisi waktunya untuk talaqqi dengan para ulama, tahsin bacaan al-Qur’an, i’tikaf di masjid-masjid untuk mengulang hafalan al-Quran ataupun melanjutkan hafalan mereka dan lain sebagainya.

Sedangkan kegiatan negatif yang biasa dilakukan para masisir di musim panas ini adalah melanjutkan tidur di pagi hari setelah sholat Subuh. Atau yang lebih dikenal dengan istilah “adding”, alias tidur tambahan. Selain itu, ada juga yang menghabiskan waktu liburan mereka untuk ‘mengkhatamkan’ berbagai judul film. Ataupun mengisi hari-harinya, mengukir mimpi di atas kasur. Sampai-sampai tak pernah lagi menyaksikan terbit dan tenggelamnya matahari.

Sebagai seorang mahasiswa di sebuah universitas Al-azhar, seharusnya kita dapat lebih memanfaatkan masa liburan musim panas yang sangat panjang ini dengan berbagai kegiatan positif, khususnya yang berhubungan dengan keilmuan. Karena jika dibandingkan dengan masa-masa efektif kuliah sangatlah jauh. Di waktu liburan inilah kita dapat menggali banyak ilmu yang tidak sempat kita temukan di dalam muqorror. Semisal “darsu-l-hayat” yang dapat kita petik dari para Syeikh dalam sebuah majlis talaqqi, atau tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masalah kontemporer yang dapat kita temukan dalam kajian-kajian mahasiswa, juga beberapa kegiatan positif lainnya sebagaiamana telah penulis paparkan di atas.

Karena jika kita kembali ke tanah air nanti, bukan hanya muqorror yang akan ditanyakan oleh masyarakat. Bukan pula taqdir najah ataupun syu’bah yang akan diperdebatkan. Akan tetapi masyarakat akan mempertanyakan segala permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Pertanyaannya, “Sudah siapkah kita?”
Maka dari itu, mari kita jadikan masa liburan panjang ini sebagai penunjang keilmuan kita dengan memanfaatkan setiap waktu sebaik-baiknya. Selanjutnya, tugas kita saat ini adalah berusaha untuk saling mengingatkan; baik kepada diri sendiri ataupun orang lain. Tak lupa, mempersiapkan diri kita untuk mewujudkan impian masyarakat yang juga menjadi tuntutan bagi kita bersama. Wallahu a’lam. Cakrawala/Hamidah. 

Merenungi Hakikat Ujian

Suatu hari di Hayy Asyir... di segala sudut terlihat berpasang-pasang mata yang tak berpaling dari lembaran muqorror. Baik di bus, halte, dan tempat keramaian lainnya. Sebagian yang lain menyibukkan diri dengan meringkas pelajaran, mencari batasan-batasan pelajaran, bahkan tak juga lelah menghadiri banyak bimbingan belajar agar mampu menguasai pelajaran.

Barangkali seperti itulah suasana menjelang ujian dan aktifitas masisir pada umumnya dan mungkin juga dirasakan oleh semua pelajar di institusi manapun. Namun bagi mereka yang tengah melanjutkan studinya di rantau orang, boleh jadi sikap semacam ini disebabkan tekad yang kuat, rasa untuk tidak mengecewakan orang tua, beban biaya hidup, serta cita-cita yang tinggi amat mempengaruhi semangat mereka dalam perjuangan ini.

Tanpa dirasa kita sudah hampir tiba di penghujung termin dua dan akan mengikuti ujian yang kedua kalinya dalam tahun ini. Betapa singkatnya waktu. Sudah pasti banyak masisir yang sudah sedia payung sebelum hujan, bersiap sejak jauh-jauh hari.

Berat, jenuh dan repot. Namun, hal ini mau tidak mau harus kita lalui, karena bagaimanapun ujian adalah salah satu syarat yang harus kita tempuh untuk menuju ke jenjang selanjutnya. Layaknya sebuah game komputer, kita tidak akan bisa berada di level kedua, sebelum menyelesaikan level pertama.

Menurut hemat penulis, secara normatif ujian mempunyai tiga sifat yang saling berhubungan satu sama lain. Pertama, sebagaimana paparan di atas, bahwa ujian adalah rintangan atau syarat yang harus ditempuh demi mencapai tingkat selanjutnya. Ujian adalah salah satu jalan pengujian kemampuan. Ini menunjukkan bahwa ujian mempunyai sifat selektif dan kompetitif dengan adanya persaingan dari para peserta untuk menempati kedudukan yang dituju. Meminjam istilah Darwin, terjadi “seleksi alam”. Siapa yang dianggap layak, maka berhak untuk menuju tingkat selanjutnya, dan yang tidak memenuhi kriteria, maka harus kembali menjalani “penggodokan.”

Dengan adanya sistem uji kualitas para peserta, menunjukkan bahwa ujian pun juga mempunyai sifat kedua, yaitu evaluatif, yaitu guna mengetahui sebatas mana penguasaan materi peserta. Kaitannya dengan yang pertama, bahwa nilai hasil evaluasi tersebut menjadi bukti bahwa peserta layak berada di jenjang berikutnya.
Ketiga, introspektif. Yaitu untuk mengetahui kelemahan yang dimiliki oleh peserta didik yang dengannya mereka mengetahui kelemahan masing-masing dan meningkatkan konsentrasi pada materi. Begitu pula dengan tenaga pengajar andai kata terjadi kekurangan dalam memberikan materi.

Walaupun itu semua ada dalam koridor takdir Tuhan, perlu kita sadari pula bahwa semua itu tak lain juga karena karunia dan kehendak Allah SWT. Apapun yang kita capai dan kita miliki semata-mata adalah kasih sayang-Nya dan bukan murni akibat usaha kita. Namun, ini tidak bisa dijadikan alasan pembenaran bagi kita untuk bermalas-malasan serta bersikap fatalistik. Tidak dibenarkan seseorang menjadikan “takdir Tuhan” sebagai sebuah alasan untuk meninggalkan usaha karena sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, “Innallahu la yughayyiru ma bi qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”. Lain kata, langit takkan menurunkan hujan emas. Bila kita menginginkan kelulusan dan kesuksesan dalam menjawab soal ujian, maka belajar disertai do’a adalah jalan yang efektif untuk mewujudkan impian itu.

Tak lepas dari itu semua, kita patut meninjau kembali niat belajar dan ujian kita. Barangkali kita seringkali menafikan tujuan diadakannya ujian yang erat hubungannya dengan sifat-sifat ujian yang telah disebutkan di atas. Tanpa sadar ujian kita bertujuan agar dapat naik tingkat semata, tanpa memikirkan hakikat menuntut ilmu yang sebenarnya. Pada akhirnya, setelah mengikuti ujian kita kerap melupakan pelajaran-pelajaran yang sudah berlalu dan hanya bangga dengan predikat serta nilai yang kita dapatkan.

Sebuah fenomena yang lumrah, akan tetapi bisa menjadi salah kaprah. Lumrah karena sangatlah manusiawi. Akan tetapi salah kaprah andai kita mementingkan predikat dan lupa dengan hakikat kewajiban mencari ilmu.
Kita mungkin masih sering mendengar bahwa niat yang harus ditanamkan seorang mukmin dalam mencari ilmu; mencari Ridha Ilahi, menghilangkan kebodohan dan meninggikan agama Islam. Namun kenyataannya bertolak belakang. Kita masih menyibukkan diri belajar demi mendapatkan predikat tertentu dan bilamana kita sudah mendapatkannya, selesai sudah sampai disitu.

Kalau boleh kita menukil, selayaknya kita berkaca pada munajat Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang sufi wanita dari Bashrah dalam konteks berbeda, “Ya Allah, kalau aku mencari ilmu hanya karena ingin nilai dan mendapatkan kelulusan, jauhkan nilai dan derajat itu dariku. Dan jika aku mencarinya karena takut tidak diluluskan dalam ujian, jangan luluskan aku dalam ujian. Namun bila aku mencarinya semata-mata hanya mencari ridha-Mu, maka jangan cabut cahaya-Mu ini dariku dan ikatkanlah kuat-kuat dalam dadaku”. Bisakah kita berprinsip demikian?

Pun demikian, sebenarnya niat-niat yang bersifat sementara itu dapat ditujukan ke arah yang lebih baik. Seperti, kita bertujuan agar di luluskan dalam ujian agar kita lebih cepat memperoleh ilmu dengan waktu yang efisien dan menyegerakan diri untuk berjuang di negeri kita. Atau, kita berniat mencapai predikat yang tinggi supaya dapat meninggikan agama Islam dan mampu mengangkat derajat saudara kita yang lain hingga mampu berada di jalan yang lurus di zaman yang penuh dengan godaan ini.

Terakhir, patut kita catat pula, bahwa selain di universitas Al-Azhar tercinta ini, kita juga sedang menjalani ujian yang lebih berat, yaitu ujian kehidupan. Dan kecemasan yang kita hadapi lebih hebat lagi karena kita dituntut untuk menjalani takdir kita masing-masing yang kita tidak mengetahuinya, serta harus menyantap menu yang dihidangkan untuk kita, bagaimanapun pahitnya. Tak lain cara untuk menyingkirkan kegelisahan itu adalah memposisikan diri baina al-Khauf wa al-Roja’. Harap-harap cemas. Tidak terlalu pesimis, namun tidak ambisius pula. Selain beramal, kita tak lupa untuk bertawakkal. Wa Allahu Al-Muwafiq .
 

Qism Tashwir

Qism Tashwir
Rihlah Regezza Alexandria |16-17 Maret 2013

CREW CAKRAWALA

CREW CAKRAWALA
Support : Copyright © 2011. Cakrawala Magazine - All Rights Reserved